No title…
Saturday, May 10th, 2008for a long time…
i am still here…
waiting something that cannot come…
i must go and run…
into the future and hope….
Love is everywhere…..
because it can shine my soul
i must be fight….
show to the world…
for a long time…
i am still here…
waiting something that cannot come…
i must go and run…
into the future and hope….
Love is everywhere…..
because it can shine my soul
i must be fight….
show to the world…
Aku mohon kepada Tuhan seikat bunga segar, tetapi bukannya mengabulkan, Ia malah memberiku bonsai kaktus yang jelek dan berduri. Aku mohon kepada Tuhan beberapa kupu-kupu yang indah, tetapi Ia malah memberiku ulat yang banyak.
Aku merasa dipermainkan, kecewa dan kesal menjadi satu….
Setelah beberapa hari…
Aku melihat kaktus itu berkembang dan merekah, menampilkan bunga-bunga yang indah. Dan ulat-ulat itu, menjadi beberapa kupu-kupu yang indah terbang kesana kemari bersama angin musim semi yang sejuk.
Kawan, ada kalanya segala sesuatu seperti tampak salah dimata kita. Kita menjadi patah semangat. Namun segala sesuatu akan indah pada waktu-Nya, bukan waktu kita. Seperti seorang anak yang melihat ibunya sedang merajut dari sisi yang lain. Si anak hanya melihat benang kusut serta jarum yang bergerak kesana kemari. Setelah selesai, maka si anak akan melihat hasil rajutan yang indah hasil karya ibunya.
(dikutip dr Unicore)
Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
“Kenapa
kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke
mana perginya wajah bersyukurmu?” sang Guru bertanya.
“Guru,
belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk
tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya,” jawab sang
murid muda.
Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si
murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan
gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang
diminta.
“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya sedikit.”
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.
“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
“Sekarang
kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat
mereka. “Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau.”
Si
murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara.
Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari
mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan
mursyid, begitu pikirnya.
“Sekarang, coba kau minum air danau
itu,” kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk
didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua
tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu
meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di
tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”
“Segar,
segar sekali,” kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung
tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas
sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah
pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di
mulutnya.
“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”
“Tidak
sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi.
Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu
meminum air danau sampai puas.
“Nak,” kata Sang Guru setelah
muridnya selesai minum. “Segala masalah dalam hidup itu seperti
segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam.
Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang
kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu.
Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak
bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak
ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari
penderitaan dan masalah.”
Si murid terdiam, mendengarkan.
“Tapi
Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung
dari besarnya ‘qalbu’(hati) yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak
merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu
jadi sebesar danau.”
(dikutip dr web unicore)